Panasnya di dalam kereta sudah menjadi teman Onih sehari-hari.Apalagi sekarang Onih bekerja menjajakan dagangan sebelum berangkat sekolah yang masuknya siang.Onih seperti ini dikarenakan untuk menyambung hidup bersama ibunya.Ayahnya sudah lama almarhum dan ibunyapula sedang sakit-sakitan.Seperti biasa jualan Onih adalah ke stasiun Cipeundeuy dan stasiun Cicalengka.Dia berharap jualannya kali ini akan mendapat keuntungan yang lebih besar dari kemarin. Belum 5 langkah Onih beranjak pergi.Tiba-tiba ada orang yang memanggil iya dari belakang,dan dia adalah Jaja.Jaja adalah satu-satunya teman Onih yang mau menerima apa saja keadaan Onih.Tidak seperti yang lain,yang lain hanya memandang harta.Mereka tidak mau berteman dengan Onih karena Onih miskin.Berhari-hari pula Onih menjalani hidupnya dengan tersenyum.Tiada kata menyerah ala hidup hidup Onih.Dia yakin yang dia dapatkan sekarang adalah ujian dari Tuhan.
Tidak seperti biasanya Onih terbangun sendiri dari tidurnya padahal berhari-hari sebelumnya Onih selalu dibangunkan ibunya.Dengan perasaan was-was Onih masuk ke kamar ibunya,dan apa yang dia temukan?yang dia temukan adalah kondisi ibunya yang terbujur kaku,dan seluruh mukanya pucat.Dengan tidak rela Onih meneriaki ibunya.Semua warga melaporkan ke Kepala Desa dan akhirnya,musnah sudah harapan Onih yang ditanam sejak dulu.Hidup bahagia bersama ibunya.
Dari hari ke hari Onih semakin malas untuk melaksanakan jadwalnya.Dia tidak pernah berdagang,tak pernah sekolah,yang dia lakukan hanyalah menatap sebuah gundukan tanah merah yang ada di hadapannya.Kerap kali Onih menangis,tersenym,dan berbicara sendiri di dekat tanah tersebut.Onih berharap Tuhan akan mengembalikan kebahagiaan yang dulu dia rasakan ,ketika ia berada di dekat makam ibunya.Tapi itu semua tidak akan pernah terjadi.Karena sebentar lagi Onih akan pergi meninggalkan makam ibunya.Pamannya mengajak Onih pergi ke Jakarta untuk melupakan kesedihannya.
Waktu telah tiba,dengan mata berkaca-kaca,Onih mencium papan nama ibunya.Saat mobil tiba di depannya,Onih segera naik dan meneteslah air matanya.Dalam hati Onih berdoa. Semoga dia bahagia dan ibunya bahagia di sisi-Nya.
Rabu, 13 Oktober 2010
panas
Langganan:
Komentar (Atom)